Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Password untuk Masa Depan: Perempuan dan Kunci Pendidikan Digital


Oleh: Anastasya Hasugian

...

Mama, ini password-nya apa? Kenapa harus masukkan password dulu, Ma? Password itu apa sih, Ma? Seribu tanya dari ponakan-ku pada ibunya. Anak seusianya memang sedang aktif-aktifnya bertanya, mencari tahu sesuatu, dan menelusuri banyak hal. Aku pun turut bertanya, mengapa ada password untuk membuka gadget?

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2022, mengemukakan bahwa sebanyak 75% pengguna gadget menggunakan password, tapi hanya sedikit yang memahami tentang literasi keamanan digital. Penggunaan password semata-mata sebagai kunci untuk membuka gadget, tetapi sebenarnya sebagai kunci pembentukan pribadi anak di era digital. Mengapa? Sebab dengan password pada gadget, semua hal dalam gadget baik positif maupun negatif dapat diserap oleh anak. Tanpa mengetahui password, anak tidak dapat mengakses apa yang ada di dalam gadget. Banyak orang tua yang menggunakan password dengan tujuan membatasi anak menggunakan gadgetnya, namun berapa banyak orang tua yang memastikan untuk mengunci akses anaknya ke konten berbahaya?

Mendengar penjelasan dari iparku, ponakanku mengangguk tanda mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh ibunya. Namun, bagiku justru muncul pertanyaan “apakah ini alasan mengapa setiap kali aku berkunjung, aku diminta untuk tidak terlalu intens menggunakan gadget di hadapan keponakanku?” Tepat sekali. Itulah jawabannya.

Saat ini, konten yang beredar di sosial media dapat dengan cepat memenuhi algoritma pengguna sosial media. Konten tersebut banyak yang tidak layak tayang bagi anak-anak karna dinilai tidak membangun, mengandung unsur SARA yang disalahartikan, bahkan kekerasan. Apakah semua orang tua mengetahui apa yang ditonton dan diserap oleh anak dari gadget yang diberikan pada anak?

Mirisnya, sebanyak 67% orang tua melaporkan anaknya mengalami tantrum (mengamuk, menangis, atau agresif) saat gadget diambil atau dibatasi. Angka tersebut diperoleh dari hasil survei oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2022. Hal ini tentu disebabkan oleh kebiasaan orang tua yang memberikan gadget sebagai pengasuh digital sejak usia dini. Padahal, hal tersebut justru merupakan sebuah alarm bagi orang tua, terutama perempuan/ibu sebagai garda terdepan, untuk menyeimbangkan teknologi dan pengasuhan. Ketergantungan anak terhadap gadget yang mengakibatkan tantrum telah membuktikan bahwa penggunaan gadget pada anak sudah melebihi batas wajar. Saat ini, gadget menjadi senjata andalan anak untuk seakan bersikap tenang, namun kenyataannya pikiran anak akan tetap aktif dan terfokus pada gadget dan informasi yang diserap dari dalam gadget tersebut.

Gadget adalah pedang bermata dua yang mampu membawa berkah sekaligus petaka. Istilah ini akan lebih layak diberikan untuk mendefinisikan gadget pada anak. Di satu sisi, ia membuka pintu ilmu tanpa batas. Dimana, anak-anak bisa belajar banyak hal, seperti belajar matematika melalui video interaktif, mengeksplorasi seni dengan aplikasi kreatif, atau terhubung dengan keluarga jauh melalui layar. Namun, di sisi lain, pedang itu juga menghunus luka. Anak-anak menjadi kecanduan game hingga lupa waktu, tantrum meledak saat gadget diambil, atau terpapar konten kekerasan yang terselip di balik rekomendasi algoritma. Layar yang semestinya menjadi jendela dunia justru berubah menjadi dinding yang mengisolasi mereka dari interaksi nyata, sementara notifikasi yang terus berdering mengikis konsentrasi dan kedamaian. Di tangan yang bijak, gadget adalah alat pemberdayaan, tetapi tanpa pengawasan ia bisa menjadi bumerang yang merusak masa depan. Peran perempuan sebagai pengendali “pedang” ini menjadi kunci untuk memastikan mata tajamnya digunakan untuk memotong kebodohan, bukan melukai jiwa-jiwa kecil yang masih rentan.

Tak bisa dipungkiri, gadget telah menjadi jendela pertama yang memperkenalkan anak pada dunia, mulai dari huruf alfabet yang ia hafal lewat lagu di YouTube, hingga cerita dongeng yang disajikan dengan animasi yang ia lihat lewat layar. Namun, jendela ini tak selalu menghadap ke pemandangan indah. Kadang, angin kencang seperti konten negatif menerpa, atau jari-jari mungilnya tanpa sengaja membuka pintu yang salah. Di sinilah peran kita, sebagai ibu, kakak, dan perempuan tangguh menjadi penjaga gawang. Kita tak hanya memastikan layar itu menyala untuk hal-hal baik, tapi juga mengajarkannya cara menendang bola menjauh dari bahaya.

Mengajarkan anak, tentu tidak semudah memberi arahan kepada rekan kerja. Namun, kita dapat mulai dengan menerapkan peraturan yang dapat kita tentukan sendiri. Seperti halnya yang dilakukan oleh saya dan keluarga, kami membuat aturan yang dikemas dalam peringatan ringan untuk anak. Perlahan, anak tak hanya belajar memegang gadget, tapi juga memegang kendali. Ia mulai paham bahwa apa yang dilihat didalam gadget bukanlah satu-satunya yang dapat dicerna begitu saja, perlu konfimasi dari ibu. Gadget pun berubah dari sekadar benda di tangannya, menjadi sahabat yang ia ajak bertualang dengan syarat, ibunya/aku selalu ada di sampingnya, mengawasi, mengarahkan, dan sesekali, menarik tangannya ketika dunia digital mulai menggodanya terlalu dalam.

Di rumah kami, aturan ini menjadi semacam mantra kecil yang selalu kami ulangi sebelum gadget menyala, yaitu PTT.

P= Panduan Awal, yaitu aturan bahwa layar hanya boleh hidup selama satu jam sehari, dibagi menjadi dua sesi, seperti dua babak dalam pertandingan, ada waktu istirahat untuk mengistirahatkan mata dan pikiran.

T= Tanyakan, adalah kebiasaan yang dibiasakan pada anak setiap kali jarinya menari di atas layar. Seperti pertanyaan tentang apakah gambar ini nyata atau editan? Setiap perempuan pasti ingin anaknya tumbuh dengan rasa penasaran yang sehat, bukan sekadar menelan mentah-mentah apa yang ditawarkan algoritma.

T= Tanggung Jawab. Sebelum gadget mati, ia harus logout dari semua akun, mengembalikan tampilan gadget ke pengaturan awal, dan meletakkannya di laci khusus. Hal ini sebagai ritual kecil yang mengajarkannya bahwa teknologi adalah pinjaman, bukan hak mutlak.

Perlahan, PTT bukan lagi sekadar singkatan, tapi menjadi kerangka yang membantunya bersahabat dengan dunia digital tanpa kehilangan kendali. Lebih dari itu, PTT ini bukan hanya berlaku di keluargaku, semua orang bisa dan mampu menerapkannya. Penerapan PTT membantu kita sebagai perempuan dalam mengasuh anak di era digital saat ini. Kemampuan yang dimiliki anak terhadap penguasaan teknologi akan menjadi batu loncatan bagi perjalanan hidupnya kelak.

Tak berhenti sampai disini, aku selalu mengingat pesan iparku yang selalu dengan penuh kasih mengajarkan kami. Adikku, kelak kamu juga akan menjadi ibu yang luar biasa... Dan, kita adalah garda terdepan dalam pertempuran yang tak terlihat. Membentengi anak-anak kita dari tsunami digital yang bisa menghanyutkan masa depan mereka. Gadget bukan lagi sekadar alat ia adalah arena tempat nilai-nilai kita diuji. Dan di tengah gempuran konten tak terkendali, kita tak bisa hanya berharap pada sekolah atau pemerintah. Kitalah, para perempuan disetiap rumah, yang harus memegang kendali. Mari bersama-sama kita men-JAGA, bukan sekadar sebagai aturan, tapi sebagai janji kita untuk generasi mendatang. Menjaga bukan hanya sekedar kata, namun memiliki makna mendalam.

·       J = Jangan Larang, tapi Arahkan.

Daripada marah saat anak kecanduan gadget, ajak mereka buat konten edukatif. Dari konsumen, jadi pencipta. Ini juga dapat mengembangkan bakat dalam diri anak.

·       Aman dengan Tools

Aktifkan parental control, blokir situs berbahaya. Setiap gadget saat ini memiliki fitur control orantua. Fitur ini lah yang sudah saatnya kita manfaatkan untuk memudahkan kita. Sebagaimana tujuan teknologi hadir adalah untuk memudahkan.

·       Gandeng Komunitas

Bergabunglah dengan grup atau komunitas literasi digital atau buat pertemuan bulanan di RT untuk saling berbagi tips. Bersatu, kita akan lebih kuat. Untuk tambahan edukasi, kita dapat mengikuti tips hingga pelatihan dari Kemkomdigi.

·       Ajak Diskusi, Bukan Monolog

Bagian yang tidak kalah penting Adalah berdiskusi. Membiasakan diri berdiskusi dengan anak akan membangun hubungan yang lebih harmonis dan meningkatkan kedekatan kita pada anak. Dengarkan respon anak, lalu sisipkan nilai-nilai kritis.

Ini bukan tentang menjadi ahli teknologi, tapi tentang kehadiran kita yang konsisten. Setiap kali kita mengajari anak memilah konten, setiap kali kita memberi contoh bijak bermedia sosial kita sedang menanamkan antibodi digital yang akan melindungi mereka seumur hidup. Masa depan anak-anak kita ditentukan oleh pilihan kita hari ini. Maukah kita membiarkan algoritma asing yang membentuk pola pikir mereka? Atau kitalah yang akan memegang remote control-nya?

Sebagai seorang ibu, beliau menjelaskan padaku caranya men-JAGA ponakanku dari bias negatif teknologi, yakni menjadi cakap digital. Menjaga dijabarkan dengan kata per kata, yang memiliki makna seluas samudera. Mulailah dengan JAGA hari ini. Karena literasi digital bukan pelajaran tambahan tapi bekal wajib untuk menyongsong dunia yang semakin tak terbatas. Layar gadget anak-anak adalah kanvas kosong, kitalah yang memegang kuas untuk mengisinya dengan warna-warna kebijaksanaan.

Kini, aku tak lagi khawatir saat matanya menatap layar. Karena di baliknya, ada benteng yang kubangun perlahan, yaitu literasi digital.

Kalimat sederhana yang membuat aku membelalak dan semakin mengerti cara seorang ibu melindungi keluarganya khususnya anaknya dari segala kemungkinan ancaman. Setiap perempuan, baik bekerja atau ibu rumah tangga adalah perempuan tangguh yang tidak dapat tergantikan. Memiliki peran sebagai kunci pendidikan digital bagi anak ditengah gempuran AI (Artificial Intelligence) yang semakin berkembang. Pernyataan bahwa AI akan menguasai manusia justru dapat ditangkal oleh generasi mendatang kelak, jika ditanamkan pendidikan literasi digital sedini mungkin. Kemungkinan terbaiknya adalah anak-anak sebagai generasi penerus justru akan mengendalikan AI dan kecanggihan teknologi lainnya lewat edukasi literasi digital.

Mereka bilang masa depan ada di genggaman tangan. Tapi siapa yang menentukan apa yang digenggam oleh tangan-tangan mungil itu? Perempuanlah kurator pertama galeri digital anak-anak. Karena sejatinya, pendidikan berawal dari rumah. Setiap konten yang kita izinkan untuk dilihat, setiap konten yang kita blokir, adalah pelajaran pertama literasi digital.


Post a Comment

0 Comments