...
Mama, ini password-nya apa? Kenapa
harus masukkan password dulu, Ma? Password itu
apa sih, Ma? Seribu tanya dari ponakan-ku pada ibunya. Anak seusianya memang
sedang aktif-aktifnya bertanya, mencari tahu sesuatu, dan menelusuri banyak
hal. Aku pun turut bertanya, mengapa ada password untuk membuka gadget?
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
(APJII) tahun 2022, mengemukakan bahwa sebanyak 75% pengguna gadget
menggunakan password, tapi hanya sedikit yang memahami tentang
literasi keamanan digital. Penggunaan password semata-mata sebagai kunci
untuk membuka gadget, tetapi sebenarnya sebagai kunci pembentukan
pribadi anak di era digital. Mengapa? Sebab dengan password pada gadget,
semua hal dalam gadget baik positif maupun negatif dapat diserap oleh
anak. Tanpa mengetahui password, anak tidak dapat mengakses apa yang ada
di dalam gadget. Banyak orang tua yang menggunakan password dengan
tujuan membatasi anak menggunakan gadgetnya, namun berapa banyak orang
tua yang memastikan untuk mengunci akses anaknya ke konten berbahaya?
Mendengar penjelasan dari iparku, ponakanku mengangguk
tanda mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh ibunya. Namun, bagiku justru
muncul pertanyaan “apakah ini alasan mengapa setiap kali aku berkunjung, aku
diminta untuk tidak terlalu intens menggunakan gadget di hadapan
keponakanku?” Tepat sekali. Itulah jawabannya.
Saat ini, konten yang beredar di sosial media dapat
dengan cepat memenuhi algoritma pengguna sosial media. Konten tersebut banyak
yang tidak layak tayang bagi anak-anak karna dinilai tidak membangun,
mengandung unsur SARA yang disalahartikan, bahkan kekerasan. Apakah semua orang
tua mengetahui apa yang ditonton dan diserap oleh anak dari gadget yang
diberikan pada anak?
Mirisnya, sebanyak 67% orang tua melaporkan anaknya
mengalami tantrum (mengamuk, menangis, atau agresif) saat gadget diambil
atau dibatasi. Angka tersebut diperoleh dari hasil survei oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2022. Hal ini tentu disebabkan oleh kebiasaan
orang tua yang memberikan gadget sebagai pengasuh digital sejak
usia dini. Padahal, hal tersebut justru merupakan sebuah alarm bagi orang tua,
terutama perempuan/ibu sebagai garda terdepan, untuk menyeimbangkan teknologi
dan pengasuhan. Ketergantungan anak terhadap gadget yang mengakibatkan
tantrum telah membuktikan bahwa penggunaan gadget pada anak sudah
melebihi batas wajar. Saat ini, gadget menjadi senjata andalan anak
untuk seakan bersikap tenang, namun kenyataannya pikiran anak akan tetap aktif
dan terfokus pada gadget dan informasi yang diserap dari dalam gadget
tersebut.
Gadget
adalah pedang bermata dua yang mampu membawa berkah sekaligus petaka. Istilah
ini akan lebih layak diberikan untuk mendefinisikan gadget pada anak. Di
satu sisi, ia membuka pintu ilmu tanpa batas. Dimana, anak-anak bisa belajar
banyak hal, seperti belajar matematika melalui video interaktif, mengeksplorasi
seni dengan aplikasi kreatif, atau terhubung dengan keluarga jauh melalui
layar. Namun, di sisi lain, pedang itu juga menghunus luka. Anak-anak menjadi
kecanduan game hingga lupa waktu, tantrum meledak saat gadget
diambil, atau terpapar konten kekerasan yang terselip di balik rekomendasi
algoritma. Layar yang semestinya menjadi jendela dunia justru berubah menjadi
dinding yang mengisolasi mereka dari interaksi nyata, sementara notifikasi yang
terus berdering mengikis konsentrasi dan kedamaian. Di tangan yang bijak, gadget
adalah alat pemberdayaan, tetapi tanpa pengawasan ia bisa menjadi bumerang yang
merusak masa depan. Peran perempuan sebagai pengendali “pedang” ini menjadi
kunci untuk memastikan mata tajamnya digunakan untuk memotong kebodohan, bukan
melukai jiwa-jiwa kecil yang masih rentan.
Tak
bisa dipungkiri, gadget telah menjadi jendela pertama yang
memperkenalkan anak pada dunia, mulai dari huruf alfabet yang ia hafal lewat
lagu di YouTube, hingga cerita dongeng yang disajikan dengan animasi yang ia
lihat lewat layar. Namun, jendela ini tak selalu menghadap ke pemandangan
indah. Kadang, angin kencang seperti konten negatif menerpa, atau jari-jari
mungilnya tanpa sengaja membuka pintu yang salah. Di sinilah peran kita, sebagai ibu, kakak, dan perempuan
tangguh menjadi penjaga gawang. Kita tak hanya memastikan layar itu menyala
untuk hal-hal baik, tapi juga mengajarkannya cara menendang bola menjauh dari
bahaya.
Mengajarkan
anak, tentu tidak semudah memberi arahan kepada rekan kerja. Namun, kita dapat
mulai dengan menerapkan peraturan yang dapat kita tentukan sendiri. Seperti
halnya yang dilakukan oleh saya dan keluarga, kami membuat aturan yang dikemas
dalam peringatan ringan untuk anak. Perlahan, anak tak hanya belajar memegang gadget,
tapi juga memegang kendali. Ia mulai paham bahwa apa yang dilihat didalam gadget
bukanlah satu-satunya yang dapat dicerna begitu saja, perlu konfimasi dari ibu.
Gadget pun berubah dari sekadar benda di tangannya, menjadi sahabat yang
ia ajak bertualang dengan syarat, ibunya/aku selalu ada di sampingnya,
mengawasi, mengarahkan, dan sesekali, menarik tangannya ketika dunia digital
mulai menggodanya terlalu dalam.
Di
rumah kami, aturan ini menjadi semacam mantra kecil yang selalu kami ulangi
sebelum gadget menyala, yaitu PTT.
P=
Panduan Awal, yaitu aturan bahwa layar hanya boleh hidup selama satu jam
sehari, dibagi menjadi dua sesi, seperti dua babak dalam pertandingan, ada
waktu istirahat untuk mengistirahatkan mata dan pikiran.
T=
Tanyakan, adalah kebiasaan yang dibiasakan pada anak setiap kali jarinya menari
di atas layar. Seperti pertanyaan tentang apakah gambar ini nyata atau editan?
Setiap perempuan pasti ingin anaknya tumbuh dengan rasa penasaran yang sehat,
bukan sekadar menelan mentah-mentah apa yang ditawarkan algoritma.
T=
Tanggung Jawab. Sebelum gadget mati, ia harus logout dari semua
akun, mengembalikan tampilan gadget ke pengaturan awal, dan
meletakkannya di laci khusus. Hal ini sebagai ritual kecil yang mengajarkannya
bahwa teknologi adalah pinjaman, bukan hak mutlak.
Perlahan,
PTT bukan lagi sekadar singkatan, tapi menjadi kerangka yang membantunya
bersahabat dengan dunia digital tanpa kehilangan kendali. Lebih dari itu, PTT
ini bukan hanya berlaku di keluargaku, semua orang bisa dan mampu menerapkannya.
Penerapan PTT membantu kita sebagai perempuan dalam
mengasuh anak di era digital saat ini. Kemampuan yang dimiliki anak terhadap
penguasaan teknologi akan menjadi batu loncatan bagi perjalanan hidupnya kelak.
Tak berhenti sampai disini, aku selalu mengingat pesan
iparku yang selalu dengan penuh kasih mengajarkan kami. Adikku, kelak kamu juga
akan menjadi ibu yang luar biasa... Dan, kita adalah garda terdepan dalam
pertempuran yang tak terlihat. Membentengi anak-anak kita dari tsunami digital
yang bisa menghanyutkan masa depan mereka. Gadget bukan lagi sekadar
alat ia adalah arena tempat nilai-nilai kita diuji. Dan di tengah gempuran
konten tak terkendali, kita tak bisa hanya berharap pada sekolah atau
pemerintah. Kitalah, para perempuan disetiap rumah, yang harus memegang
kendali. Mari bersama-sama kita men-JAGA, bukan sekadar sebagai aturan, tapi
sebagai janji kita untuk generasi mendatang. Menjaga bukan
hanya sekedar kata, namun memiliki makna mendalam.
· J
= Jangan Larang, tapi Arahkan.
Daripada
marah saat anak kecanduan gadget, ajak mereka buat konten edukatif. Dari konsumen, jadi pencipta. Ini juga dapat
mengembangkan bakat dalam diri anak.
· Aman
dengan Tools
Aktifkan
parental control, blokir situs berbahaya. Setiap gadget saat ini
memiliki fitur control orantua. Fitur ini lah yang sudah saatnya kita
manfaatkan untuk memudahkan kita. Sebagaimana tujuan teknologi hadir adalah
untuk memudahkan.
· Gandeng
Komunitas
Bergabunglah
dengan grup atau komunitas literasi digital atau buat pertemuan bulanan di RT
untuk saling berbagi tips. Bersatu, kita akan lebih kuat. Untuk tambahan
edukasi, kita dapat mengikuti tips hingga pelatihan dari Kemkomdigi.
· Ajak
Diskusi, Bukan Monolog
Bagian
yang tidak kalah penting Adalah berdiskusi. Membiasakan diri berdiskusi dengan
anak akan membangun hubungan yang lebih harmonis dan meningkatkan kedekatan
kita pada anak. Dengarkan respon anak, lalu sisipkan nilai-nilai kritis.
Ini
bukan tentang menjadi ahli teknologi, tapi tentang kehadiran kita yang
konsisten. Setiap kali kita mengajari anak memilah konten, setiap kali kita
memberi contoh bijak bermedia sosial kita sedang menanamkan antibodi digital
yang akan melindungi mereka seumur hidup. Masa depan anak-anak kita ditentukan
oleh pilihan kita hari ini. Maukah kita membiarkan algoritma asing yang
membentuk pola pikir mereka? Atau kitalah yang akan memegang remote control-nya?
Sebagai seorang ibu, beliau menjelaskan padaku caranya men-JAGA ponakanku dari bias negatif teknologi, yakni menjadi cakap digital. Menjaga dijabarkan dengan kata per kata, yang memiliki makna seluas samudera. Mulailah dengan JAGA hari ini. Karena literasi digital bukan pelajaran tambahan tapi bekal wajib untuk menyongsong dunia yang semakin tak terbatas. Layar gadget anak-anak adalah kanvas kosong, kitalah yang memegang kuas untuk mengisinya dengan warna-warna kebijaksanaan.
Kini, aku tak lagi khawatir saat matanya menatap layar. Karena di baliknya, ada benteng yang kubangun perlahan, yaitu literasi digital.
Kalimat sederhana yang membuat aku membelalak dan semakin mengerti cara seorang ibu melindungi keluarganya khususnya anaknya dari segala kemungkinan ancaman. Setiap perempuan, baik bekerja atau ibu rumah tangga adalah perempuan tangguh yang tidak dapat tergantikan. Memiliki peran sebagai kunci pendidikan digital bagi anak ditengah gempuran AI (Artificial Intelligence) yang semakin berkembang. Pernyataan bahwa AI akan menguasai manusia justru dapat ditangkal oleh generasi mendatang kelak, jika ditanamkan pendidikan literasi digital sedini mungkin. Kemungkinan terbaiknya adalah anak-anak sebagai generasi penerus justru akan mengendalikan AI dan kecanggihan teknologi lainnya lewat edukasi literasi digital.
Mereka bilang masa depan ada di genggaman tangan. Tapi
siapa yang menentukan apa yang digenggam oleh tangan-tangan mungil itu?
Perempuanlah kurator pertama galeri digital anak-anak. Karena sejatinya,
pendidikan berawal dari rumah. Setiap konten yang kita izinkan untuk dilihat, setiap
konten yang kita blokir, adalah pelajaran pertama literasi digital.
0 Comments